Showing posts with label Syukuri Organ Kita. Show all posts
Showing posts with label Syukuri Organ Kita. Show all posts

Saturday, October 8, 2011

Aduhai Hati (III)





Perkara memperbaiki hati.
a.    Al-mujahadah (kesungguhan) dalam memperbaikinya.
b.    Banyak mengingat kematian dan hari akhirat.
c.    Bergaul dengan orang-orang yang saleh.
d.    Hatinya selalu terkait dengan Penciptanya dan Sembahannya.e.    Amalan saleh dengan semua bentuknya.
f.    Memanfaatkannya (hati) sesuai dengan tujuan penciptaannya.
g.    Berdzikir kepada Allah Ta’ala.

Perkara memperbaiki hati.
a.    Al-mujahadah (kesungguhan) dalam memperbaikinya.
“
Dan orang-orang yang bermujahadah untuk (mencari keridaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan Kepada mereka jalan-jalan Kami.” (QS. Al-Ankabut: 69)

Abu Hafsh An-Naisaburi berkata, “Saya menjaga hatiku selama dua puluh tahun kemudian dia yang menjagaku selama dua puluh tahun.” (rujuk Nuzhah Al-Fudhala`: 1205)
b.    Banyak mengingat kematian dan hari akhirat.
 Abu Hurairah meriwayatkan bahawa Rasulullah bersabda “Perbanyaklah mengingat penghancur kelezatan, yakni kematian” (HR. Imam Empat kecuali Abu Daud)
Dan beliau juga bersabda tentang ziarah kubur, “Karena sesungguhnya dia mengingatkan kalian kepada negeri akhirat -dalam sebagian riwayat: Kematian-.” (HR. An-Nasa`i )
tdan Ibnu Majah juga dari Abu Hurairah
Said bin Jubair -rahimahullah- berkata, “Seandainya mengingat kematian hilang dari hatiku niscaya saya khawatir kalau hal itu akan merusak hatiku.”
c.    Bergaul dengan orang-orang yang saleh.
Abu Musa Al-Asy’ari  berkata bahawa Nabi  bersabda “Perumpamaan teman duduk yang baik dengan teman duduk yang jelek adalah seperti penjual minyak wangi dan pandai besi. Adapun penjual minyak wangi, maka mungkin dia akan memberikannya kepadamu atau mungkin juga kamu akan membeli darinya atau paling tidak kamu mencium bau wangi di sekitarmu. Adapun pandai besi, maka kalau dia tidak membakar pakaianmu maka paling tidak kamu mencium bau busuk di sekitarmu”. (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Bahkan Allah Ta’ala telah berfirman, “Dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang yang zalim yang menyebabkan kamu disentuh api neraka,” (QS. Hud: 113)
d.    Hatinya selalu terkait dengan Penciptanya dan Sembahannya.
“Engkau menyembah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya, dan kalau kamu tida sanggup melihat-Nya maka yakinlah kalau Dia melihatmu.” (Muttafaqun alaih)
Ibnu Al-Qayyim berkata dalam Al-Wabil Ash-Shayyib, “Sesungguhnya di dalam hati ada wahsyah (sifat liar) yang tidak bisa dihilangkan kecuali dengan ketenangan dalam mengingat Allah, di dalamnya ada kesedihan yang tidak bisa dihilangkan kecuali dengan kegembiraan mengenal-Nya, dan padanya ada kefakiran yang tidak bisa dihilangkan kecuali dengan kejujuran tawakkal kepada-Nya, yang seandainya seseorang diberikan dunia beserta segala isinya niscaya kefakiran tersebut tidak akan hilang.”
e.    Amalan saleh dengan semua bentuknya.Allah Ta’ala berfirman, “Barang siapa yang mengerjakan amal yang saleh maka (pahalanya) untuk dirinya sendiri dan barang siapa yang berbuat jahat maka (dosanya) atas dirinya sendiri.” (QS. Fushshilat: 46)
berkata Ibn Abbas , “Sesungguhnya amalan baik memberikan cahaya pada hati, kecemerlangan pada wajah, kekuatan pada badan, tambahan pada rezeki, kecintaan di dalam hati-hati para hamba.”

Sebesar-besar bahkan landasan setiap amalan yang saleh adalah ilmu agama yang bermanfaat, dengannyalah seorang hamba mendapatkan kebaikan dunia dan akhirat. 

Hadits Muawiah bin Abi Sufyan: Rasulullah bersabda “Barangsiapa yang Allah inginkan kebaikan pada dirinya maka Dia akan memberikannya pemahaman dalam agama.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
f.    Memanfaatkannya (hati) sesuai dengan tujuan penciptaannya.
Ini adalah hal yang boleh difahami secara akal, yakni suatu benda yang dibuat untuk mengerjakan sesuatu pasti akan rusak kalau digunakan untuk selain dari tujuan pembuatannya. Dan tujuan diciptakannya hati dan akal adalah untuk mentadabburi ayat-ayat Allah yang bersifat syar’i dan kauni yang darinya akan lahir amalan-amalan sebagai tanda keimanan dia kepada Allah.
Pernah ditanyakan kepada Ummu Ad-Darda` -radhiallahu anha- tentang ibadah suaminya yang paling sering dia lakukan, maka beliau menjawab, “Berpikir dan mengambil pelajaran (darinya).”
g.    Berdzikir kepada Allah Ta’ala.
Allah Ta’ala berfirman, “Barang siapa yang berpaling dari pengajaran Tuhan Yang Maha Pemurah (Al Qur’an), Kami adakan baginya setan (yang menyesatkan) maka setan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya.” (QS. Az-Zukhruf: 36)
 “Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta”. Berkatalah ia: “Ya Tuhanku, mengapa Engkau menghimpunkan aku dalam keadaan buta, padahal aku dahulunya adalah seorang yang melihat?” Allah berfirman: “Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, maka kamu melupakannya, dan begitu (pula) pada hari ini kamu pun dilupakan.” (QS. Thaha: 124-126)

“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28)

Aduhai Hati (II)

Perbandingan antara hati dengan pendengaran dan penglihatan
1.  Nabi s.a.w. bersabda dalam hadits ibnu Mas’ud:
“Ketahuilah, sesungguhnya di dalam hati ada segumpal daging yang kalau dia baik maka akan baik pula seluruh anggota tubuh, dan kalau dia rusak maka akan rusak pula seluruh anggota tubuh, ketahuilah di adalah hati.” (Muttafaqun alaih)

2. Mata, telinga dan hati adalah tiga anggota tubuh paling penting, paling mulia dan paling sempurna pada manusia karena dengan penglihatan mata, pendengaran telinga dan penglihatan hati semua ilmu sampai dan  berpindah.


 “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.” (QS. Al-Isra`: 36)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiah menyatakan dalam Al-Majmu’ Al-Fatawa (9/310) yang kesimpulannya sebagai berikut: “Penglihatan adalah yang terendah di antara ketiganya karena dia hanya mengetahui sesuatu yang terlihat pada saat itu, berbeda halnya dengan pendengaran dan hati karena kedua mampu mengetahui sesuatu yang tidak terlihat, baik yang terjadi di zaman dahulu maupun di zaman yang akan datang. Kemudian pendengaran dan hati berbeda dari sisi: Hati itu sendiri mampu memahami sesuatu sementara pendengaran hanya berfungsi sebagai pengantar ucapan (yang berisi ilmu) kepada hati.”

Thursday, September 15, 2011

Aduhai Hati (I)

“Hati” (dalam bahasa arab : qalbun) mempunyai dua makna iaitu menunjukkan bahagian yang paling murni dan paling mulia dari sesuatu.  Juga bermakna merubah dan membalik sesuatu dari satu posisi ke posisi lain (rujuk Mu’jam Maqayis Al-Lughah)

Kedua makna ini sesuai dengan makna hati secara istilah, karena hati merupakan bagian yang paling murni dan paling mulia dari seluruh makhluk hidup yang mempunyainya, dan dia juga sangat mudah untuk berubah dan berbolak-balik.

  1.  “Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada.” (QS. Al-Hajj: 46).
  2. “Maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat berakal dengannya.” (QS. Al-Hajj: 46)
  3. Rasulullah bersabda “Wahai Yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku di atas agamamu.” (HR. At-Tirmidzi dari Anas bin Malik)
  4. Rasulullah bersabda “Ketakwaan itu di sini, ketakwaan itu di sini,” seraya beliau menunjuk ke dada beliau (HR. Muslim dari Abu Hurairah).

Friday, September 2, 2011

Aduhai Mata


Mata adalah satu pancaindera paling penting. Menerusi mata kita dapat melihat dan menatap segala kejadian alam. Bagaimanapun, mata juga adalah pintu pertama dimasuki syaitan.  Tujuan utama dijadikan mata ialah untuk merenung kejadian alam semesta ini (tanda-tanda kebesaran Allah). Alam terbentang ini yang ditatap oleh mata setiap hari adalah untuk memberi fikiran kepada manusia.
(1) Rasulullah bersabda: "Melihat kecantikan perempuan itu adalah panah beracun daripada panah-panah iblis. Siapa yang dapat mengawasi matanya, maka Allah akan memberikannya merasa satu kenikmatan ibadat yang membahagiakannya."
(2) Imam Ghazali berkata: "Nasihatkanlah kepada orang mukmin supaya mengawasi pandangan mata mereka."
(3) Imam Bukhari menyatakan dengan mengawasi mata daripada memandang perkara haram ia dapat menyuburkan hati untuk melakukan ketaatan kepada Allah. Orang yang beriman sentiasa menjaga dan mengawal matanya daripada melihat benda-benda haram.
Satu kebaikan orang yang berjaya mengawasi matanya ialah dapat menikmati kerehatan jiwa kerana terselamat daripada rayuan dan kepesonaan yang mengganggu hatinya.
(4) Allah berfirman: "Allah mengetahui pandangan mata yang tidak jujur dan apa yang disembunyikan di dalam dadanya." (Al-Mukmin: 19).
(5) Allah berfirman : "Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk Neraka Jahannam banyak dari jin dan manusia yang mempunyai hati (tetapi) tidak mahu memahami dengannya (ayat-ayat Allah), dan yang mempunyai mata (tetapi) tidak mahu melihat dengannya (bukti keesaan Allah) dan yang mempunyai telinga (tetapi) tidak mahu mendengar dengannya (ajaran dan nasihat); mereka itu seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi; mereka itulah orang-orang yang lalai." (Al-Araaf : 179).

Sama-samalah kita berusaha menjaga dan menggunakan mata sebaik-baiknya.

Sunday, August 28, 2011

Aduhai Tangan

Salah satu dari pancaindera terpenting dan disebut sebanyak 53 kali di dalam Al-Quraan, antaranya : 1. "(Azab seksa) yang demikian itu ialah disebabkan perbuatan yang telah dilakukan oleh tangan kamu sendiri dan (ingatlah), sesungguhnya Allah tidak sekali-kali berlaku zalim kepada hamba-hambaNya" (Al-Imran : 182)
2. "Pada hari lidah mereka dan tangan mereka serta kaki mereka menjadi saksi terhadap diri mereka sendiri, tentang segala yang mereka lakukan"(An-Nur : 24)
3. "Kemudian sesiapa yang diberi menerima surat amalnya dengan tangan kanannya " (Al-Inshiqaq : 7)
Semoga kita dan ahli keluarga kita diberi kekuatan untuk : 
1. menggunakan tangan kita seperti yang diperintahkan-Nya,
2. berusaha agar tangan kita akan menjadi saksi yang memberi kebaikan kepada kita
3. berdoa agar kitab amalan dengan kita diberi dengan tangan kanan-Nya.
Terima kasih.